Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Planet Nebula Ini Gambarkan Matinya Matahari


Matahari akan berkembang menjadi sebuah nebula yang sama saat mati.

Rabu, 28 Desember 2011, 15:10 WIB
Bayu Galih, Amal Nur Ngazis
VIVAnews - Bill Snyder, seorang astrofotografer menggambarkan bagaimana matahari akan mati, yaitu saat mengambil gambar Dumbbell Nebula, sebuah awan gugusan bintang yang menunjukkan masa kematian matahari.

“Semua perluasan gas dan debu dalam gambar ini ada dalam bintang itu,” kata Snyder, seperti dikutip dari laman Daily Mail.

Saat matahari mati, ia meniup lapisan gas terluar, yang membentuk sebuah awan besar yang diterangi oleh inti bintang mati tersebut. Matahari akan berkembang menjadi sebuah nebula yang sama saat mati, dalam waktu 5 milyar tahun mendatang.

“Nebula Dumbbell kira-kira 1360 tahun cahaya dari bumi. Ini merupakan target yang tampak dalam teleskop amatir maupun teropong,” kata Synder. 

Dumbelle Nebula sendiri ditemukan secara tidak sengaja pada 1764. Saat itu, astronom Charles Messier sedang menyusun daftar objek langit tersebar, yang bukan termasuk komet.
Objek ke 27 dari daftar yang disusun Messier itu kini diketahui sebagai M27 atau Dumbbell Nebula. Dengan cahaya yang terbentuk seperti dumbell (alat untuk angkat beban), ini merupakan planet nebula atau tipe nebula yang terbentuk dari matahari saat fusi nuklirnya berhenti di inti matahari.

Dibutuhkan 1360 tahun cahaya bagi manusia untuk mencapai M27. Pengukuran material perluasan dari M27 telah menyebabkan perkiraan bahwa ‘penyemburan kulit matahari’ dimulai antara 3 ribu dan 48 ribu tahun yang lalu, dengan tambahan 1360 tahun yang dibutuhkan cahaya M27 untuk mencapai kita.

Secara fisika, untuk memahami M27 tentu sulit dilakukan di abad ke-18. Istilah 'planet nebula' sendiri datang untuk menyebut planet gas raksasa, seperti Jupiter.

Sampai saat ini, banyak hal yang tetap misterius mengenai bipolar planet nebula seperti M27, termasuk kekuatan yang mengandung ledakan lapisan terluar gas bintang.
Lapisan tersebut dipanasi oleh inti panas dari bintang, yang disebut white drawf, dan bersinar dengan inframerah serta warna cahaya yang tampak.

Nebula Dumbbell terbentang melintasi 4.5 tahun cahaya, melebihi daripada jarak antara matahari dan bintang terdekat matahari. (adi)
• VIVAnews

Ditemukan, Gambaran Masa Depan Tata Surya


Kepler temukan dua buah planet di dekat bintang yang telah melewati fase red giant.

Rabu, 28 Desember 2011, 06:36 WIB
Muhammad Firman
Kedua planet ditemukan berada sangat dekat dengan bintang yang telah melewati fase red giant. (newscientist.com)
VIVAnews - Pekan lalu marak diberitakan penemuan dua buah planet berukuran serupa Bumi oleh Kepler, teleskop ruang angkasa milik NASA. Ternyata, Kepler juga menemukan planet serupa yang tidak mendapat perhatian sebesar Kepler-20e dan Kepler-20f.

Berbeda dengan kedua planet sebelumnya, dua planet ini, yakni KOI 55.01 dan KOI 55.02 mengorbiti bintang KOI 55. Bintang ini merupakan bintang berkategori subdwarf B yang artinya ia merupakan bintang yang merupakan sisa dari inti sebuah bintang merah raksasa.

Kedua planet itu juga mengorbit sangat dekat dengan mataharinya itu. Kemungkinan, mereka terhisap mendekat saat bintang itu mencapai tahap red giant phase namun berhasil selamat (meski menjadi kering kerontang). Dimensinya sendiri tinggal 0,76 dan 0,87 kali Bumi dan menjadi exoplanet terkecil yang diketahui mengorbiti sebuah bintang aktif.

“Saat bintang membengkak dan menelan planet, planet-planet itu terseret mengikuti arus melalui atmosfir panas milik bintang dan menyebabkan gesekan saat para planet berputar-putar semakin dekat ke bintang itu,” kata Elizabeth Green, astronom dari University of Arizona.

Dikutip dari Universe Today, 27 Desember 2011, saat fenomena itu berlangsung, planet itu membantu melucuti atmosfir milik bintang. “Di saat yang sama, gesekan membuat lapisan gas dan cair milik planet itu terlepas dan menyisakan sebagian inti padat milik planet tersebut,” ucap Green.

Menurut peneliti, Matahari kita akan mengalami nasib serupa dengan KOI 55 dalam beberapa miliar tahun ke depan. Diperkirakan, saat membengkak, Matahari akan menelan Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

“Saat Matahari kita menjadi bintang merah raksasa, ia akan menelan Bumi. Dan jika planet kerdil seperti Bumi menghabiskan waktu 1 miliar tahun di lingkungan seperti itu, planet Bumi akan menguap,” kata Green. “Hanya planet dengan massa yang jauh lebih besar dari Bumi seperti Jupiter atau Saturnus saja yang kemungkian akan selamat,” ucapnya.

Green menyebutkan, temuan adanya planet yang telah selamat dari fase bintang yang mengembang lalu mengempis itu dapat membantu para ilmuwan untuk memahami lebih baik akan nasib sistem-sistem planet yang ada di jagat raya, termasuk sistem tata surya kita.
• VIVAnews

Satelit Ruang Angkasa Rusia Disabotase?


Satelit Rusia mengalami malfungsi ‘yang tidak bisa dijelaskan’ saat di belahan bumi lain.

Rabu, 11 Januari 2012, 11:51 WIB
Muhammad Firman, Amal Nur Ngazis
VIVAnews - Sejumlah kegagalan terakhir Rusia dalam meluncurkan satelit ruang angkasa mereka kemungkinan merupakan akibat dari sabotase pihak asing. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Vladimir Popovkin, Kepala Russian Federal Space Agency (Roscosmos), dan tampaknya ditujukan pada Amerika Serikat.

Popovkin memang tidak menuduh negara tertentu secara spesifik yang telah merusak satelit mereka. Namun dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan bahwa pesawat-pesawat Rusia mengalami malfungsi ‘yang tidak bisa dijelaskan’ saat mereka terbang di belahan bumi lain, di luar jangkauan fasilitas pelacak mereka.

Popovkin mengungkapkan tuduhan itu saat menjelaskan kegagalan satelit Phobos-Ground, proyek senilai US$170 juta (Rp1,55 triliun) yang misinya adalah menjelajahi Phobos, salah satu dari dua bulan milik Mars yang terdampar saat mengorbit Bumi setelah diluncurkan, 9 November lalu.

Teknisi di badan antariksa Rusia dan European Space Agency pun gagal mengembalikan pesawat ruang angkasa itu ke jalur seharusnya ke Mars, dan diperkirakan ia akan jatuh kembali ke Bumi pada 15 Januari mendatang.

“Teknologi modern membuat pesawat ruang angkasa menjadi rapuh terhadap pengaruh asing,” kata Popovkin, dikutip dari MSNBC, 11 Januari 2012. “Saya tidak ingin menuduh siapapun, tetapi saat ini banyak kekuatan yang mampu mengganggu pesawat ruang angkasa, dan penggunaan alat ini tidak bisa diabaikan,” ucapnya.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut, Alexei Kuznetsov menolak membahas komentar Popovkin yang merupakan pertama kalinya seorang pejabat resmi pemerintah Rusia melontarkan tuduhan bahwa pihak asing telah menyabotase salah satu satelit milik negeri tersebut. (umi)
• VIVAnews

Gempa 7,6 SR Guncang Meulaboh


Gempa seperti ini akan diikuti beberapa kali gempa susulan dengan magnitude kecil.

Rabu, 11 Januari 2012, 18:00 WIB
Arry Anggadha, Harwanto Bimo Pratomo
VIVAnews - Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang Barat Daya Meulaboh, Aceh Barat, pukul 01.36 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai gempa tersebut bukan gempa yang biasa terjadi di Sumatera.

"Gempa tersebut terjadi di bagian lempeng samudera, yaitu pada lempeng Australia, sebelum lempeng tersebut menghujam lempeng Benua Eurasia dekat dengan outer-rise," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan yang diterima VIVAnews.com Rabu 11 Januari 2012.

"Jadi gempa tadi malam tidak terjadi pada zona pertemuan lempeng, sebagaimana kebanyakan gempa terjadi di Sumatera. Mekanisme gempa semalam yaitu sesar geser (tidak berpotensi tsunami) dan jarak dari zona pertemuan lempeng yaitu sekitar 100 km."

Sutopo menjelaskan, gempa ini terjadi karena lempeng samudera berusaha masuk ke bawah lempeng benua. Sehingga terdapat aktivitas postseismik yang arahnya berlawanan. "Sehingga terdapat akumulasi regangan di dekat palung laut. Akumulasi ini menghasilkan gempa sesar geser lalu," jelasnya.

Menurutnya, gempa seperti ini akan diikuti beberapa kali gempa susulan dengan magnitude kecil dan sedikit sekali kemungkinannya untuk diikuti gempa besar. "Beberapa gempa jenis ini pernah terjadi di wilayah yang dekat dengan gempa tadi pagi dengan mekanisme yang juga mirip," ujarnya.

Gempa besar yang terjadi pagi tadi berpusat di lokasi 2.32 lintang utara dan 92.82 bujur timur dan berada pada kedalaman 10 kilometer.

Gempa ini dirasakan di Banda Aceh, Simelue, Medan, Mandailing Natal. Wilayah Meulaboh merasakan getaran yang cukup kuat, tetapi tidak ada laporan kerusakan, atau korban. Sementara di Kota Banda Aceh tenang.

Hingga saat ini, di semua wilayah yang terkena guncangan gempa, belum ada laporan adanya korban dan kerusakan bangunan. Tim Reaksi Cepat BNPB dan BPBD masih mendata dampak gempa bumi itu.
• VIVAnews